Lebanon dan Bobroknya Sistem Kapitalisme

Dalam dua hari terakhir ini, nama Lebanon kembali mendunia dan mengguncang dunia. Negara yang terletak di kawasan Timur Tengah, yang sebelumnya dikenal sebagai “Paris-nya Timur Tengah” ini, dalam hitungan menit saja, ibukotanya (Beirut) luluh-lantah oleh sebuah ledakan besar. Ledakan yang menurut keterangan resmi pejabat negara tersebut disebabkan oleh sekitar 2.750 ton bahan kimia yang bernama ammonium nitrat. Ledakan yang telah menewaskan setidaknya 140 orang dan lebih dari 5.000 lainnya mengalami luka-luka.

Bencana ini berawal dari sebuah gudang di Pelabuhan Beirut. Gudang yang digunakan untuk menyimpan 2.750 ton bahan kimia. Sungguh, sebuah manajemen penyimpanan yang BOBROK karena lokasinya berada di kota yang dihuni oleh sekitar 2 juta penduduk Beirut.

Beberapa analis sosial dan politik baik di Lebanon maupun di luar Lebanaon, menyebutnya ini adalah “kelalaian”. Namun, secara pribadi, saya menyebutnya sebuah KESENGAJAAN. Sengaja, karena bahan kimia ini sudah disimpan selama 6 tahun sejak tahun 2014. Sengaja, sebagaimana hasil investigasi media televisi Al-Jazeera dan juga media-media nasional Lebanon menyatakan bahwa pihak Bea cukai telah mengirimkan surat pengajuan sebanyak empat kali kepada pihak terkait untuk mengatasi permasalahan gudang beserta isinya tersebut. Namun, sebanyak empat kali itu pula tidak ada tanggapan serius dari pihak berwenang. Dan akhirnya, semua berakhir dengan “bencana kehancuran dan kematian”.

2.750 ton ammonium nitrat bukanlah jumlah yang sedikit. Ini jumlah yang besar. Ini terkait dengan uang dan modal. Dan bukan rahasia umum lagi, bahwa banyak pejabat Lebanon yang dikenal sebagai pejabat yang korup, yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada rakyat.

Dilihat dari daya ledaknya, bencana Lebanon termasuk bencana terbesar kedua setelah peristiwa pengeboman yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap kota Hiroshima dan Nagasaki (Jepang) pada Agustus 1945. Menurut Badan Seismologi Yordania, ledakan Beirut tersebut setara atau berkekuatan 4,5 skala richter.

Tragedi Beirut seakan-akan semakin melengkapi penderitaan rakyat Lebanon. Rakyat Lebanon sudah lama hidup dalam konflik politik antara elit politik dan juga perang saudara. Penjajahan yang dilakukan oleh Perancis, bisa dibilang sebagai awal penderitaan rakyat dan bangsa Lebanon. Perancis dan bangsa Eropa lainnya (termasuk Amerika Serikat), yang juga telah membawa Lebanon berada di geopolitik penuh konflik antara Israel, Suriah, Iran dan Arab Saudi.

Rakyat Lebanon juga sudah lama hidup dalam krisis ekonomi. Angka pengangguran semakin tinggi. Inflasi juga kian meninggi. Begitu juga dengan tingkat kemiskinan yang dialami oleh penduduknya. Demonstrasi-demonstrasi menentang kebijakan pemerintah sudah mulai intens sejak tahun 2014 dan frekuensinya semakin meningkat di tahun-tahun berikutnya, dan yang terbesar adalah “Revolusi Oktober” 2019 lalu.

Lebanon merupakan salah satu contoh bentuk miniatur neo-kolonialisme Eropa di kawasan Timur Tengah. Sebuah sistem kapitalisme barbar yang menerapkan kebijakan neo-liberalismenya. Sistem yang hanya melayani segelintir kelompok kelas kaya (pemilik modal) dengan cara menghisap dan menindas mayoritas rakyatnya.

Secara sederhana, kapitalisme Lebanon berdiri dan didirikan di atas kepentingan elit-elit politik sektarian yang menggunakan agama sebagai senjata untuk meraih keuntungan. Kursi-kursi politik di pemerintahan dan kue-kue pembangunan ekonomi dibagi-bagi berdasarkan unsur keagamaan antara Kristen (Maronit, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani, Ortodoks Armenia, Katolik Armenia, Protestan, dan cabang Kristen lainnya) dengan Islam (Sunni, Syiah, Alawi) dan Druze. Dengan sistem politik seperti inilah maka rakyat atau ummat Lebanon sekedar menempati posisi sebagai pelengkap penderita saja. Para elit berkedok agama inilah yang kini menduduki posisi sebagai kelas penindas.

Sepertinya, TRAGEDI BEIRUT bisa dijadikan momentum kebangkitan bagi rakyat Lebanon. Revolusi Oktober 2019 bisa dilanjutkan kembali. Jika kita mengikuti dengan aktif setiap postingan-postingan di media social Lebanon, maka kita bisa melihat bagaimana saat ini rakyat Lebanon sedang menjerit, menangis, lelah bercampur dengan kemarahan. Ini tercermin dari adanya demonstrasi atau protes di ibukota Beirut sejak kemarin hingga hari ini.

Menyadari hal tersebut, sejak kemarin, Presiden Lebanon menyatakan “NEGARA DALAM KEADAAN DARURAT”. Dengan dekrit tersebut, Presiden memberikan wewenang tanpa batas kepada pihak militer. Tujuannya adalah satu: meredam muncul dan meluasnya protes serta berlanjutnya Revolusi Oktober 2019. Sungguh, sebuah keputusan yang akan membawa bencana bagi rakyat Lebanon, dan tidak menutup kemungkinan akan merembet ke seluruh kawasan Timur Tengah.

Secara pribadi, saya tidak terkejut dengan TRAGEDI BEIRUT. Tragedi-tragedi serupa juga terjadi di negara-negara lain di belahan dunia. Sebutlah Indonesia, dimana secara SENGAJA hutan-hutan digunduli dan diubah menjadi perkebunan yang disusul dengan adanya bencana banjir dan kebakaran. KESENGAJAAN seperti ini hanya terjadi ketika negara tersebut hidup dalam sistem yang BARBAR alias KAPITALISME!

“Bukan PRAY FOR LEBANON tetapi ACTION FOR LEBANON!”

VA Safi’i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *