Dibalik Harga Kedelai yang Meroket

Ilustrasi Kedelai.

CacamNian.com, Jakarta – Harga kacang kedelai melonjak drastik sejak pandemi Covid-19. Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai normalnya di kisaran Rp 6.100-6.500 per kilogram (kg) per Maret-April 2020 lalu. Kini, harganya naik menjadi sekitar Rp 9.300-9.800/kg.

Menteri Perdagangan M. Lutfi mengatakan, Indonesia sendiri untuk memenuhi kebutuhannya harus mengimpor di beberapa negara produsen, di antaranya Amerika Serikat, Argentina dan Brazil. Namun, disisi lain beberapa penyebab penyebab terjadinya harga kedelai yang kian meroket.

“Pertama gangguan cuaca El Nina di Latin Amerika yang menyebabkan basah di Brazil dan Argentina. Kedua, diperparah dengan Argentina yang mengalami pemogokan. Ketiga, kenaikan harga kedelai disebabkan oleh tingginya permintaan, terutama dari China,” ungkap Lutfi, Selasa (12/1/2021).

Lutfi menjelaskan persolan pertama. Ia menyebut gangguan cuaca di El Nina di Latin Amerika yang menyebabkan basah di Brazil dan Argentina menyebabkan harga kedelai mencapai US$ 13 per rumpunnya dan ini merupakan harga tertinggi dalam enam tahun terakhir. Kemudian diperparah dengan Argentina yang mengalami pemogokan.

Ia menjelaskan, mogoknya sektor distribusi kemarin disektor distribusi, namun saat ini di pelabuhan juga mengalami pemohogokan. Sehingga yang satu berhenti, yang satu mulai. Jadi, ini menjadi gangguan tersendiri dari Argentina, sedangkan di Argentina itu dibawa pakai kapal melewati sungai dan keluar di Brazil untuk pengapalan.

Kemudian ditambah dengan tingginya permintaan dari Cina, sehingga menyebabkan harga kedelai kian meroket.

“Pada tahun 2019-2020 yang lalu itu, China mengalami yang disebut dengan swine flu atau flu babi. Flu babi ini menyerang ternak bagi mereka di mana seluruh ternak babi yang ada di China ini dimusnahkan. Jadi hari ini mereka memulai ternak babi itu lagi dengan jumlah sekitar 470 juta yang tadinya makanannya tidak diatur, hari ini makanannya diatur,” paparnya.

“Karena makanannya diatur tiba-tiba karena babi ini yang besar ini hampir mengkaliduakan permintaan kedelai dari China kepada Amerika Serikat dalam kurun waktu yang singkat. Jadi dari 15 juta biasanya permintaan disana naik menjadi 28 juta permintaan. Ini menyebabkan harga yang tinggi,” sambung Lutfi.

Menurutnya kondisi ini belum selesai. Ia memprediksi, harga kedelai impor masih akan terus naik sampai Mei 2021.

“Kedelai ini harganya akan menguat terus mungkin sampai akhir Mei 2021. Karena memang hasil daripada crop di tahun 2021 ini dinyatakan baik, dan Brasil akan kembali pada produksi mungkin lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya, Jadi kami melihat bahwa harga ini akan menguat terus sampai dengan akhir Mei,” pungkas Lutfi.

Sementara, Direktur Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah mengatakan, pandemi Corona menyebabkan proses pengiriman ke Indonesia terhambat di pelabuhan-pelabuhan transit. Secara keseluruhan, faktor-faktor itu menyebabkan harga kedelai dan biaya pengirimannya melonjak.

“Karena rush juga, China beli, negara lain beli, sehingga logistiknya terganggu. Pengangkutan dari pelabuhan muat, maupun pelabuhan transit seperti di Singapura, nah itu agak terkendala,” kata Hidayatullah. [MM]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *