Harga Kedelai Melonjak Drastis

Ilustrasi kedelai.

CacamNian.com, Seluma – Harga kacang kedelai impor melonjak drastis di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).  Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai normalnya di kisaran Rp 6.100-6.500 per kilogram (kg) per Maret-April 2020 lalu. Kini, harganya naik menjadi sekitar Rp 9.300-9.800/kg.

Salah satu toko kelontong yang beralamatkan di kawasan Liku Tiga Kelurahan Sidomulyo kecamatan Seluma Selatan mengatakan, per 50 kg sudah mencapai Rp475 ribu. Harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak beberapa bulan terakhir.

“Kalau biasanya harga kedelai per 50 kilogram itu Rp425 ribu, bahkan bisa lebih murah. Kalau sekarang harganya Rp475 ribu, dan ini naik terus sudah lama tidak pernah turun lagi,” jelas pemilik toko kelontong, Hamzah, Rabu (13/1/2021).

Penjual tidak bisa berbuat banyak mengenai harga kedelai yang naik tersebut, pasalnya kenaikan harga sudah berasal dari tingkat distributor. Kenaikan harga tersebut menjadi keluhan khususnya masyarakat yang memiliki usaha tahu tempe.

“Memang dari tempat kami beli sudah mahal, kalau saya belinya di Kota Bengkulu. Masyarakat yang membeli sudah pasti mengeluh, khususnya yang punya usaha membuat tempe dan tahu,” jelasnya.

Adapun sebelumnya pengusaha tahu dan tempe di Seluma, berharap harga kedelai bisa kembali normal. Pasalnya kenaikan harga ini sangat merugikan, dan dapat mengancam keberlanjutan usaha.

“Kalau begini terus mungkin usaha kami ini bisa tutup, semoga harganya bisa turun. Kami minta pemerintah bisa turun tangan bantu kami,” jelas Darmi salah satu pengusaha tahu di Kelurahan Padang Rambun.

Diminta Jaga Harga

Sejak pandemi Covid-19 masuk, banyak petani termasuk Bengkulu mengeluh seiring dengan harga yang tak seimbang.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief berharap tidak ada lagi hasil komoditas pertanian yang tidak dapat diprediksi kisarannya.

“Semua hasil komoditas petani harus bisa diserap industri dengan harga yang pantas dan mensejahterakan. Subsidi atau bantuan berhak diperoleh sama semua petani, jangan hanya kepada pemain industri besar tanpa memperdulikan petani,” Riri Damayanti mengingatkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *