oleh

Gerakan Kenabian dan Akhir Kapitalisme

-Opini-32 views
Rudi Nurdiansyah

Baginda Nabi Agung Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam hadist riwayat Imam Ahmad, kurang lebih mengatakan, bahwa zaman dibagi menjadi lima, yakni zaman Nubuwwah, zaman Keemasan, zaman Kerajaan, zaman Jababiro dan zaman Keagungan dimana kepemimpinan akan berjalan di atas kenabian.

Dalam hadist yang dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani tersebut, banyak ulama menafsirkan bahwa zaman Nubuwwah atau zaman kenabian, telah usai dengan wafatnya Nabi Muhammad. Zaman Keemasan yang dipimpin oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun telah berakhir.

Sementara zaman Kerajaan cukup lama pula sirna dan saat ini manusia tengah berjalan pada zaman Jababiro, sebuah zaman kebebasan dimana maksiat hampir terjadi dimana-mana.

Di zaman ini, fitnah bertebaran, orang zalim menjadi penguasa, umat manusia begitu mencintai dunia dan sangat takut akan kematian. Sementara yang percaya adanya Allah dan kenabian Rasulullah Muhammad banyak, tapi bagaikan buih di lautan yang terombang-ambing diantara kemodernan dan ketertinggalan.

Bukan hanya ditafsirkan ulama, apa yang disampaikan oleh Nabi Agung Muhammad ini juga disarikan oleh banyak pujangga dan filsuf dengan bahasa yang berbeda-beda hingga jauh setelah Rasulullah wafat.

Ronggowarsito menyebutnya zaman Edan (gila, red), Prabu Jayabaya menyebutnya zaman Kalabendu (kesengsaraan, red) dan Karl Marx menyebutnya dengan zaman Kapitalisme.

Zaman Jababiro ini bisa dilihat kasat mata dan persis seperti dalam banyak riwayat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam akan menjadi sebagai tanda-tanda semakin dekatnya hari kiamat.

Diantaranya minuman keras ditenggak dimana-mana, perzinaan terjadi dimana-mana, musik didengar dimana-mana, rumah ibadah-rumah ibadah dibangun dengan megah tapi sepi, kalah ramainya dengan diskotik-diskotik, mall-mall, pusat-pusat perjudian dan prostitusi.

Hampir seluruh kemaksiatan yang membinasakan umat-umat Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam terdahulu muncul di zaman Jababiro, mulai dari penindasan manusia atas manusia, perdagangan yang tidak jujur, kesombongan manusia akan bangunan-bangunan megah, raja-raja zalim, hingga percintaan sesama jenis.

Kini, semua itu mendapatkan pukulan telak dari wabah corona atau populer dengan sebutan covid-19. Menyebar dengan cepat di seluruh dunia, covid-19 seperti pukulan maut yang membuat neoliberalisme sempoyongan, nyaris pingsan.

Banyak industri kemaksiatan yang dibuat gulung tikar oleh corona. Pemutusan hubungan kerja terjadi dimana-mana. Umat manusia dirundung kecemasan di balik tembok-tembok pembatasan sosial.

Inilah senjakala zaman Jababiro, atau redupnya zaman Kalabendu, yang dimulai dari krisis Neoliberalisme dan akan menjadi akhir dari Kapitalisme.

Menariknya, di tengah zaman seperti ini telah muncul suatu gerakan Nubuwwah, sebuah kerja kenabian. Meski belum genap seratus tahun, namun telah menyebar di seluruh dunia.

Orang yang memulai gerakan Nubuwwah ini, Maulana Ilyas rahimahullah, pernah mengatakan bahwa kerja ini akan dimuat oleh semua media massa. Sekarang telah terbukti.

Sebagai sebuah gerakan, kerja ini tidak terorganisasi dan memang betul-betul hanya sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kerja persis seperti apa yang pernah dibuat oleh Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya radiallahu ‘anhum.

Gerakan Nubuwwah ini menempa setiap orang-orang yang terlibat didalamnya agar terus menerus melatih diri memanifestasikan Al-Qur’an dan Sunah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari.

Gerakan inilah yang melahirkan ahli-ahli korban, orang-orang yang menghabiskan harta dan waktunya agar seluruh umat manusia selamat, bahagia di dunia dan akhirat.

Kerja ini tidak memandang status sosial, meninggalkan perdebatan-perdebatan yang dapat melahirkan perselisihan, dilarang untuk membuka keburukan masyarakat dan menolak pengkotak-kotakan politik.

Namun demikian, kerja ini terkoordinasi dengan rapi di rumah-rumah ibadah sebagai sentralnya. Rumah-rumah ibadah yang disentuh kerja ini diupayakan makmur dengan bisa memberikan pelayanan terbaik kepada umat.

Meski dihantam dengan berbagai narasi jahat seperti aliran sesat, sekte agama yang kaku, tapi kerja ini terus berkembang, bahkan ditengah pandemi covid-19.

Rombongan-rombongan yang mengajak manusia untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala ini terus bergerak di seluruh dunia, tanpa berharap keduniaan, tanpa berharap popularitas, tanpa berharap sanjungan, dengan mendaki gunung dan menyeberangi samudera luas.

Inilah gerakan sosial yang paling setia untuk mengajak manusia dapat saling berkasih sayang dengan sesama.

Inilah gerakan rohani yang bakal memukul tembok-tembok kapitalisme neoliberalisme hingga runtuh dan ditengah reruntuhannya akan terbangun sosialisme ilahiah.

Inilah gerakan Nubuwwah yang akan melahirkan sistem ekonomi politik baru di dunia yang lebih humanis.

Inilah kerja Kenabian yang bermasa depan karena membawa seluruh manusia selamat.

Wallahu a’lam bis-shawab.

Rudi Nurdiansyah, Mubaligh Anggut Bawah Kota Bengkulu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed