Kurikulum Mitigasi Bencana Bengkulu

Hj Riri Damayanti John Latief

CacamNian.com, Bengkulu – Hasil monitoring Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terdapat 6 klaster zona aktif gempa pada Januari 2021 dimana Bengkulu, Lampung dan Banten masuk dalam salah satu klaster zona aktif gempa tersebut yang membuatnya menjadi daerah rawan gempa dan tsunami.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengatakan, tidak mengejutkan ketika Bengkulu masuk dalam salah satu klaster zona aktif gempa tersebut mengingat sejarah kegempaan Bengkulu dan adanya gempa-gempa kecil yang baru-baru ini terjadi.

“Informasi ini penting untuk mengingatkan betapa pentingnya upaya mitigasi dan penataan agar infrastruktur siap dalam memberikan respon peringatan dini dan langkah-langkah untuk mengurangi resiko dilakukan dengan sungguh-sungguh dan serius,” kata Riri Damayanti, Rabu (3/2/2021).

Menurut Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini, selain informasi tersebut, ada hal yang lebih penting dan mendesak untuk segera diambil sebagai kebijakan yakni mengenai perlunya pembelajaran kebencanaan masuk dalam kurikulum pendidikan formal.

“Saya percaya ketika ahli mengatakan bahwa pengetahuan tentang kebencanaan di masyarakat sangat rendah. Ini penting disikapi. Jalan keluar terbaik ya pengetahuan tentang kebencanaan ini ditanamkan sejak dini, mulai dari sekolah dasar sampai ke jenjang universitas,” ujar Riri Damayanti.

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, sejak dini, kepekaan dan kepahaman masyarakat tentang kebencanaan harus ditanamkan agar upaya mitigasi dapat berjalan dengan baik dan resiko bencana dapat ditekan serendah mungkin.

“Jadi dalam beberapa puluh tahun mendatang akan tercipta sebuah generasi yang tangguh, sigap, tangkas, tanggap dan cekatan dalam menghadapi berbagai bencana. Ini sebenarnya sudah diusulkan presiden, saya setuju agar gagasan ini segera dilaksanakan,” ungkap Riri Damayanti.

Wakil Ketua Bidang OPK BKMT Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bengkulu ini memaparkan, rendahnya literasi kebencanaan membuat banyak orang belum memahami bagaimana cara mengantisipasi, mewaspadai, menghadapi, dan bersikap ketika bencana datang.

“Contoh kecil ketika terjadi banjir dan longsor, orang langsung berpikiran ini akibat curah hujan tinggi atau cuaca ekstrem. Padahal bisa jadi sebenarnya akibat ada orang yang mendirikan bangunan sembarangan, tata ruang yang amburadul, membuang sampah sembarangan, alih fungsi lahan gila-gilaan dan lain-lain,” tandas Riri Damayanti.

Dewan Penasehat DPD Generasi Anti Narkotika Nasional (GANN) Provinsi Bengkulu ini menambahkan, melalui penerapan kurikulum kebencanaan tersebut, ia optimis setiap orang akan dapat lebih siap menghadapi potensi bencana.

“Saya membayangkan sebuah masyarakat yang tidak panik dan tahu harus ngapain ketika ada gempa, tsunami, gunung meletus, banjir, longsor dan lain-lain. Sebuah masyarakat yang peduli saling berbagi selama bencana terjadi. Sebuah masyarakat yang tahu apa yang perlu dilakukan untuk segera bangkit dari bencana yang terjadi dan bagaimana untuk menghindari bencana-bencana berikutnya,” demikian Riri Damayanti.

Data terhimpun, sejak awal Januari 2021, Bengkulu banyak mengalami gempa dengan beragam kekuatan. Salah satunya pada Sabtu sore, 30 Januari 2021, gempa berkekuatan 5,1 M yang bisa dirasakan oleh hampir semua penduduk.

Sebelumnya, gempa yang sama juga terjadi pada 7 Januari lalu berkekuatan 5,8 M berpusat di laut, 41 kilometer barat daya Bengkulu selatan.

Dalam skala yang lebih kecil gempa terjadi pada 13 dan 24 Januari lalu masing-masing berkekuatan 4,6 M dan 4,9 M yang dirasakan di Seluma.

Pada tahun sebelum atau tepatnya 16-17 Desember 2020, BMKG mencatat terdapat total sebanyak 10 kali gempa jenis kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu aktivitas sesar besar Sumatra yang bermagnitudo 4,2 mengguncang wilayah Curup, Rejang Lebong, Bengkulu dan sekitarnya.

Lalu pada Agustus dan Oktober 2020 BMKG juga mencatat gempa kembar (doublet) 6,6 dan 6,7 Magnitudo dan belasan gempa susulan. [M]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *