BNNP Bengkulu: Lawan Narkoba

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia telah mengubah tatanan kehidupan di berbagai sektor.

Banyak aktivitas yang dipaksa berhenti untuk sekedar menekan laju penularan wabah ini.

Namun ada satu yang tak terhenti bahkan cenderung menggeliat di masa ini, yaitu kejahatan narkotika.

Situasi dan kondisi ini dimanfaatkan oleh sindikat Narkoba untuk terus melancarkan aksinya, merenggut masa depan generasi muda dengan Narkoba.

Untuk itu, tidak ada alasan bagi Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Bengkulu untuk melonggarkan upaya-upaya terkait Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Petugas menyampaikan bahaya penyalahgunaan narkoba dan program rehabilitasi.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Data Dan informasi (Puslitdatin) Badan Narkotika Nasional (BNN) yang telah bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa Provinsi Bengkulu diperkirakan sebanyak 1,30% (19.698 orang) pernah terpapar menggunakan Narkoba.

Terdapat tujuh Kelurahan yang menjadi kawasan rawan dan rentan Narkoba di wilayah Kota Bengkulu.

Keberadaan kawasan rawan dan rentan Narkoba tersebut mengindikasikan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba yang cukup masif.

BNNP Bengkulu telah melakukan rehabilitasi rawat jalan kepada 123 orang klien, 19 orang klien TAT dan 40 orang klien pascarehabilitasi.

Sepanjang tahun 2020, BNNP Bengkulu telah berhasil mengungkap 8 kasus tindak pidana penyalahgunaan Narkotika dengan jumlah tersangka sebanyak 26 dan dengan barang bukti Narkotika golongan I jenis sabu sebanyak 3.097 gram dan ganja sebanyak 61.400 gram.

Berdasarkan data dan fakta yang ada diperlukan sinergi dan kerjasama dari semua instansi terkait untuk memerangi penyalahgunaan dna peredaran gelap Narkoba.

#STOPNARKOBA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *