Senator Riri: Alih Fungsi Lahan Ancaman Serius Ketahanan Pangan

Ilustrasi.

CacamNian.com, Bengkulu – Di Bengkulu terutama di Kabupaten Rejang Lebong luas lahan pertanian kian berkurang.  Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong menyebutkan saat ini luas sawah di Kabupaten Rejang Lebong menyisakan 5.553 hektare yang tersebar di 15 kecamatan.

Luas tersebut berkurang setengah atau hilang seluas 4.197 hektare, karena sebelumnya berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rejang Lebong luas area persawahan di Kabupaten Rejang Lebong seluas 9.750 hektare.

Anggota Komite II DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief mengaku prihatin dengan lahan pertanian produktif beralih fungsi menjadi bangunan atau perumahan komersil.

Ketua Umum Pemuda Jang Pat Petulai ini meminta Pemerintah untuk lebih memperhatikan dan menekan perizinan untuk pembangunan perumahan komersil diatas lahan pertanian produktif.

“Tentunya kami miris, lahan pertanian produktif semakin menyempit karena alih fungsi lahan menjadi bangunan komersil, persoalan ini harus disikapi pihak Pemerintah,” ungkap Riri Damayanti kepada media, Senin (15/2/2021).

Ketua Bidang Tenaga Kerja, Kesehatan, Pemuda dan Olahraga BPD HIPMI Provinsi Bengkulu ini juga meminta, pemerintah semestinya lebih selektif memberikan perizinan untuk bangunan komersil sehingga tidak menghilangkan lahan pertanian produktif.

Diketahui, sesuai regulasi telah terbit Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2019 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah dijelaskan mengenai pentingnya perlindungan lahan pertanian di daerah sebagai lahan abadi yang tidak boleh beralih fungsi ke kepentingan apapun.

“Konversi lahan ini berpotensi mempengaruhi produksi padi nasional dan mengancam ketahanan pangan nasional,” kata Riri Damayanti.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Suherman SP mengatakan, luas baku sawah yang tersisa saat ini dan tercapat oleh BPN ini adalah lahan persawahan yang berproduksi dan dialiri pengairan irigasi tekhnis maupun tradisional.

Menurut Suherman, alih fungsi lahan saat ini sangat sulit dihindari, hal tersebut menurutnya merupakan dampak dari kemajuan pembangunan yang terjadi di Kabupaten Rejang Lebong. Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong telah melakukan sejumlah upaya untuk mencegah hal tersebut salah satunya dengan tidak memberikan izin untuk alih fungsi lahan pertanian terutama ke perumahan.

“Meskipun kita tidak memberikan izin, namun masih banyak terjadi seperti alih fungsi sawah yang peruntukannya selain untuk penanaman padi, biasanya itu tidak ada izin,” tegas Suherman.

Lebih lanjut ia menjelaskan, alih fungsi lahan persawahan di Kabupaten Rejang Lebong sendiri, menurut Suherman banyak ditemui dikawasan perkotaan Curup seperti di kawasan Kelurahan Talang Benih Kecamatan Curup dan Desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan. Di dua area persawahan yang terkenal penghasil beras terbaik asal Kabupaten Rejang Lebong tersebut, banyak persawahan yang sudah beralih fungsi menjadi permukinan warga baik menjadi lokasi rumah, pertokoan dan tempat usaha lainnya.

“Meskipun mereka membangun ditanah pribadi, namun kami pastikan bangunannya tidak memiliki izin, karena bila mereka mengajukan izin pasti ditolak oleh dinas terkait,” demikian Suherman. [M]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *