oleh

Perlu Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Ramadhan

Ilustrasi.

Cacamnian.com, Bengkulu – Sebelum dan berjalannya bulan suci rahadhan hingga idul fitri, harga bahan kerap terjadi kenaikan. Salah satu bahan pokok yang mengalami kenaikan adalah cabai merah. Bahkan cabai merah tidak pernah turun harga sejak dua bulan terakhir, hingga satu bulan menjelang bulan suci.

Di salah satu pasar di Kabupaten Seluma, tepatnya di pekan sabtu desa Cahaya Negeri kecamatan Sukaraja, harga cabai merah sudah mencapai Rp. 48 ribu perkilogram.

“Sekarang lagi naik, harganya Rp. 48 ribu perkilogram, kalau biasanya itu Rp. 45 ribu. Kalau kenaikan memang sudah lama naik, memang dari pemasoknya harganya tinggi,” jelas Lasma, pedagang berbagai jenis sayur di Pekan Sabtu.

Dijelaskan Lasma ia tidak mampu berbuat banyak, atas tingginya harga cabai merah. Untuk mengantisipasi minimnya pembeli, ia tidak banyak menyediakan cabai.

“Memang saya tidak jual banyak, karena harganya mahal dari pusatnya. Ini cabai diantar dari Kepahiang atau Rejang Lebong. Bukan dari Seluma,” jelasnya.

Kenaikan harga cabai merah ini dikhawatirkan dapat semakin tinggi, seiring dengan mendekatnya bulan suci ramadhan. Permintaan semakin tinggi pada saat mendekat raya idul fitri.

Pemerintah Diminta Punya Gebrakan

Anggota Komite II DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief mengatakan, kenaikan harga kebutuhan pokok sudah hal yang lumrah setiap menjelang akhir tahun, bulan ramadhan, ataupun hari-hari besar lainnya.

Untuk itu, Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini mengatakan, perlunya cara antisipasi yang efektif agar kebutuhan pokok tetap stabil.

“Kenaikan harga sembako baik dari telur ayam, beras, daging sapi atau kebutuhan lainnya, selalu melonjak harganya hingga tak wajar di setiap menjelang hari besar Kriten, hari besar Islam, ataupun hari-hari lainnya. Tentu ini menjadi permasalahan yang harus ditanggapi, mengapa kenaikan harga selalu dihari itu, apa penyebabnya?” ungkap Riri Damayanti kepada media, Senin (15/3/2021).

Perempuan yang mendapat gelar Putri Dayang Negeri oleh Masyarakat Adat Tapus ini juga mengatakan, pemerintah perlu mencari akar masalah tersebut. Sebab kenaikan harga di hari itu sudah dianggap hal yang wajar.

“Mencari penyebab kenaikan harga dihari besar selalu terjadi, apakah hal tersebut karena stok barang sangat rendah atau permainan harga disana. Namun, hal tersebut membuktikan, kemandirian ekonomi dibidang pertanian, peternakan, dan perkebunan belumlah terwujud sepenuhnya,” jelas Riri Damayanti. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed