Senator Riri Dukung Jokowi Percepat Eliminasi TBC

Hj Riri Damayanti John Latief

CacamNian.com, Bengkulu – Data Global TB Report 2020 menyatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan beban tuberkulosis (TBC) tertinggi kedua di dunia setelah India. Berdasarkan data Analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Indonesia tahun 2017, TBC pun menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Bengkulu.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengungkapkan apresiasinya atas kebijakan Presiden Joko Widodo yang meminta kepada para menteri untuk segera mempercepat eliminasi TBC di Indonesia. Hal ini dia ungkapkan di tengah-tengah peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Senin (24/13/2021).

“Kurang dari sepuluh tahun lagi, Indonesia dan 75 negara lainnya sudah sepakat untuk mengakhiri TBC pada tahun 2030. Aturan hukumnya di Indonesia pun sudah ada. Sekarang yang diperlukan adalah mendorong kepedulian dan peran aktif semua pihak untuk bergandengan tangan menangani TBC di semua daerah,” kata Hj Riri Damayanti John Latief.

Alumni Psikologi Universitas Indonesia ini menjelaskan, pandemi covid-19 memang telah memberikan pembelajaran penting untuk bagaimana menanggulangi upaya kesehatan dan menurunkan angka kesakitan atau kematian, memutuskan penularan hingga mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat TBC.

“Yang paling penting adalah bagaimana program penanganan TBC ini bisa menjangkau seluruh desa-desa pelosok. Khususnya yang belum memiliki fasilitas kesehatan yang belum memadai untuk menangani TBC. Di Bengkulu misalnya, desa pelosok cukup banyak. Ini perlu perhatian lebih dari pemerintah dari pusat, kabupaten hingga pemerintahan desa. Harus ada kerjasama agar program berakhirnya TBC pada 2030 sukses,” tandas Hj Riri Damayanti John Latief.

Dewan Penasehat DPD Generasi Anti Narkotika Nasional (GANN) Provinsi Bengkulu ini berharap kebijakan penanggulangan TBC dapat didukung dengan pengadaan fasilitas yang berkualitas di seluruh pelayanan kesehatan, termasuk di daerah-daerah berkembang yang memang membutuhkan perhatian lebih terhadap hal ini.

“Sejak pandemi covid-19 melanda banyak anggaran terpangkas, termasuk untuk penanganan TB. Jadi kegiatan-kegiatan yang sempat terhenti sudah seharusnya dilanjutkan kembali untuk melacak peningkatan penderita TB yang mungkin tidak terdeteksi selama masa pandemi covid-19,” harap Hj Riri Damayanti John Latief.

Disamping itu, Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini melanjutkan, berdasarkan catatan statistik ia juga menemukan banyaknya penderita TBC yang menunda kontrol ke rumah sakit karena khawatir divonis covid-19.

“Padahal untuk sembuh penderita TBC harus meminum obat terus menerus selama kurang lebih 6 bulan. Belum lagi petugas kesehatan yang kewalahan melayani pasien covid-19. Jadi wajar pada tahun 2020 temuan penderita TBC pun menurun. Tahun 2021, semua ini harus diperbaiki dan alhamdulillah negara sudah menyadari pentingnya hal ini,” tukas Hj Riri Damayanti John Latief.

Data terhimpun, guna mengurangi TBC secara cepat, Presiden Jokowi telah mengeluarkan tiga arahan yakni melakukan pelacakan secara agresif dengan melakukan layanan diagnostik maupun pengobatan TBC, memastikan bahwa pelayanan harus terus tetap berlangsung dan melakukan penanganan dengan lintas sektor.

Dunia memperingati Hari TBC karena penyakit ini merupakan masalah kesehatan amat penting di dunia dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pula. Di Indonesia pada tahun 2019 estimasi sebanyak 845.000 kasus. Ada 63.111 kasus pada anak. Per maret 2020 yang ternotifikasi TB sebanyak 543.874 dengan 11.993 kematian. Diperkirakan terdapat 35 persen kasus TB tidak terlaporkan dan terdapat 11.117 kasus TB HIV. [M]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *