Optimis Bina Keterampilan Narapidana

Hj Riri Damayanti John Latief

CacamNian.com, Bengkulu – Hari Bhakti Pemasyarakatan atau Hari Pemasyarakatan Indonesia diperingati serentak di seluruh nusantara secara virtual dengan memperhatikan protokol kesehatan penyebaran virus corona COVID-19, Selasa (27/4/2021).

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief memberikan aprasiasi kepada Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) yang terus berinovasi dalam memberikan pelayanan kepada narapidana di seluruh Indonesia.

“Dalam masa pandemi covid-19 ini pasti banyak tantangan yang dihadapi lapas (lembaga permasyarakatan), terutama dalam memenuhi hak-hak narapidana sebagai manusia. Tapi saya tetap optimis pembinaan khusus seperti keterampilan, pembentukan akhlak, penguatan mental dan lain-lain tetap berjalan dengan baik di seluruh lapas di tanah air,” kata Hj Riri Damayanti John Latief.

SMA Negeri 6 Kota Bengkulu ini menjelaskan, bulan Ramadan adalah momen yang paling baik untuk membentuk akhlak narapidana agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan puasa dan amal ibadah yang ada di bulan penuh ampunan ini.

“Berikan fasilitas peribadahan yang benar-benar nyaman buat para tahanan. Kasih jalan untuk para narapidana menemukan perubahan dalam dirinya karena kedekatannya kepada Allah. Pasti saat-saat bulan puasa ini para napi benar-benar rindu bisa bebas agar bisa kumpul lagi dengan keluarganya di rumah. Ramadan bisa jadi bulan pertobatan buat para napi,” ungkap Hj Riri Damayanti John Latief.

Alumni Psikologi Universitas Indonesia ini menekankan, ciri suksesnya pengelolaan lembaga permasyarakatan bisa dilihat dari banyaknya orang yang taubat, bukan tempat belajar ilmu kejahatan yang mencetak residivis jahat setelah keluar dari penjara.

“Sudah cukup ada yang tertangkap jadi bandar narkoba di lembaga permasyarakatan. Kalau bisa lapas kayak pesantren. Indonesia harusnya iri dengan penjara-penjara di Amerika yang jadi pusat penyebaran agama sehingga menghasilkan mualaf dan banyak orang soleh,” tukas Hj Riri Damayanti John Latief.

Alumni Magister Manajemen Universitas Bengkulu ini memparkan, menjadikan lapas sebagai pesantren sangat masuk akal mengingat ada begitu banyak waktu yang dimiliki oleh para narapidana untuk mendalami dan mengamalkan ilmu agama serta saling mengajarkannya di antara mereka.

Menurutnya, seorang napi bisa memperbanyak salat dan khatam Al-Qur’an setiap hari, sesuatu yang sulit dilakukan di luar penjara.

“Menjadikan lapas sebagai pesantren di Amerika ternyata caranya nggak rumit. Cukup setiap hari kirim ustaz ke ruang tahanan untuk kasih ceramah. Batu aja bisa cekung kalau setiap hari ditetesi air. Apalagi hati manusia, pasti akan luluh kalau setiap hari disiram dengan hikmah,” tutur Hj Riri Damayanti John Latief.

Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan dimulai sejak 56 tahun yang lalu sebagai momen instropeksi sekaligus memperkokoh komitmen seluruh Insan Pemasyarakatan dalam mewujudkan tujuan sistem Pemasyarakatan.

Sebelum istilah pemasyarakatan dikenalkan oleh Menteri Kehakiman Sahardjo pada 5 Juli 1963, dahulu orang mengenal istilah kepenjaraan. Namun istilah pemasyarakatan dinilai lebih pas untuk mewakili tujuan dari pidana penjara. [M2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *