oleh

Sikap Apatis Adalah Peringatan Dini Demensia

Ilustrasi Demensia (Foto: express.co.uk)

Sebuah penelitian baru yang dipimpin oleh Universitas Cambridge menemukan bahwa sikap apatis merupakan peringatan dini penyakit demensia atau penyakit penurunan daya ingat pada individu dengan penyakit serebrovaskular yaitu penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah otak, namun tidak pada orang yang mengalami depresi.

Dijelaskan para ilmuwan dari Universitas Cambridge, selama ini depresi seringkali dianggap sebagai faktor risiko demensia. Namun ternyata selama ini mungkin dokter dan peneliti telah menilai apatis yang ditandai dengan sikap acuh tak acuhnya secara parsial atau sebagian dan hanya melihat gejala depresinya.

Seperti dilansir dari laman eurekalert.org, hasil penelitian tersebut telah diterbitkan dalam Journal Neurology, Neurosurgery & Psychiatry pada 11 Juli 2020 belum lama ini, dan menjadi penelitian yang pertama yang menguji hubungan antara apatis, depresi dan demensia pada individu dengan penyakit pembuluh darah otak kecil.

“Pemantauan apatis yang berkelanjutan dapat digunakan untuk menilai perubahan risiko demensia dan menginformasikan diagnosisnya,” kata Jonathan Tay, peneliti utama studi tersebut.

Para peneliti telah menguji kohort atau kelompok analisis independen pasien dengan penyakit pembuluh darah otak kecil yang sebagian berasal dari Inggris dan sebagian lagi dari Belanda yang memiliki kecenderungan perilaku apatis terus meningkat dari waktu ke waktu.

Apatis yang didefinisikan sebagai perilaku yang acuh tak acuh dan pikiran tanpa tujuan, merupakan gejala yang umum muncul pada penderita penyakit pembuluh darah kecil.

Pada penelitian tersebut, lebih dari 450 peserta -semuanya dengan penyakit pembuluh darah otak kecil- yang direkrut dari tiga rumah sakit di London Selatan dan Departemen Neurologi Universitas Radboud di Belanda telah dinilai untuk apatis, depresi dan demensi.

Hasilnya, pada kelompok analisis dari Inggris, hampir 20 persen pasien mengembangkan demensia, sementara 11 persen dari kelompok analisis Belanda juga mengembangkan demensia.

Sementara pada kedua data tersebut, pasien yang mengembangkan demensia menunjukan kecenderungan apatis yang lebih tinggi dengan tingkat depresi yang sama di awal penilaian. Hasil penelitian tersebut dinilai penting untuk masa akan datang untuk pengembangan perawatan dan diagnosis pasien demensia. (R1)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed