oleh

Hak Rakyat Dibungkam, Nining Elitos Dipanggil

Nining Elitos

CacamNian.com, Jakarta – Konfederasi KASBI yang beraliansi dengan GEBRAK (Gerakan Buruh bersama Rakyat) melakukan Aksi Massa pada peringatan Hari Perempuan Sedunia dengan tetap menjalankan Protokol Kesehatan pada Senin (8/3/2021) lalu.

Tentu bukan tanpa halangan dalam melakukan Aksi Massa di tengah situasi demokrasi Indonesia yang saat ini penuh dengan Pembungkaman yang dilakukan oleh Rezim terhadap warga sipil, ditambah situasi pandemi Covid-19 yang tak kunjung membaik.

Kaum buruh, terutama Buruh Perempuan yang dalam pekerjaannya banyak didapati tindakan diskriminasi, tidak terpenuhinya berbagai haknya sebagai Perempuan, hingga pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pihak Perusahaan menandakan gagalnya Pemerintah Indonesia dalam menjamin dan melindungi Rakyatnya sendiri dari ketertindasan dan penghisapan oleh Sistem Kapotalisme.

Pun pada saat melakukan demonstrasi, tindakan intimidasi bahkan hingga represi dilakukan oleh Pihak Kepolisian terhadap massa aksi beserta seluruh penanggung jawab aksi, hingga berujung kriminalisasi terhadap pimpinan KASBI dengan melakukan pemanggilan yang dilakukan oleh Polisi Daerah Metro Jaya.

Penanggung Jawab Aksi yaitu Ketua Umum Konfederasi KASBI, Nining Elitos sebagai pihak terlapor beserta pengurus serikat buruh afiliasi KASBI sebagai saksi. Mereka dipanggil dipanggil oleh Polisi Daerah Metro Jaya yang dijadwalkan pada tanggal 15 Maret 2021.

Tak tanggung-tanggung, pihak Kepolisian menggunakan Pasal 55, Pasal 160 dan 169, Pasal 216 KUHP. Selain itu juga pasal 98 Undang Undang No.6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

“Pertama memang ada surat yang dikirimkan pihak Polda kepada saya dan anggota saya, dalam surat tersebut mengenai undangan klarifikasi terkait aksi IWD di kementerian tenaga kerja bertepatan tanggal 8 Maret 2021, kami aksi sudah memberikan pemberitahuan terhadap pihak kepolisian baik Mabes Polri maupun Polda Metro Jaya, secara aliansi GEBRAK maupun Konfederasi KASBI,” jelas Nining Elitos saat dihubungi melalui telephone, Jumat (12/3/2021).

Sejak sebelum hingga aksi massa, menurutnya, pihaknya telah mengunakan standar protokol kesehatan. Menurutnya, aksi menyampaikan pendapat dimuka umum adalah hak dan dilindungi hukum, bukan perbuatan pidana.

“Kenapa kami harus aksi di Kemenaker, karena banyak buruh perempuan dan buruh secara umum masih menjadi korban kesewenang-wenangan di masa pandemi. Kasusnya pun baik di daerah-daerah maupun di wilayah Jabodetabek,” jelas Nining.

Untuk pemanggilan pada 15 Maret ini, Nining mengaku belum bisa hadir. Ia mengatakan, nanti akan ada surat jawaban secara resmi berkaitan tanggal 15 Maret.

“Iya dong, kerumunan di NTT diberbagai media jauh lebih besar. Sedangkan kami masih menjaga jarak, mengunakan jas plastik dan mengunakan masker. Jadi seharusnya para pengurus negeri ini senang adanya kritik dan mengingatkan peran dan tugasnya agar tidak di luar jalur pesan konstitusi,” tegas Nining.

Sementara itu, Ketua Umum Suluh Perempuan Siti Rubaidah mengatakan bahwa pemanggilan dan penetapan pasal-pasal Kekarantinaan Wilayah tidaklah tepat karena Nining Ellitos dan massa buruh yang tergabung dalam KASBI dan GEBRAK melakukan aksi dengan memperhatikan protokol kesehatan.

“Bahwa upaya pemanggilan dan penetapan pasal-pasal yang telah disampaikan merupakan bentuk kriminalisasi terhadap warga negara yang sedang memperjuangkan hak-haknya,” kata Siti Rubaidah.

Senada dengan itu, Ketua Umum Serikat Tani Nelayan (STN), Ahmad Rifai menyesali pemanggilan Nining tersebut. Menurutnya, Pemanggilan Nining justru memunculkan kesan Pemerintah anti kritik.

“Presiden kan minta dikritik, lalu kenapa saat kritik itu disampaikan malah memunculkan kesan seolah mau Kriminalkan melalui berbagai pasal berlapis,” ujar Ahmad Rifai.

“Alasan pelanggaran protokol kesehatan juga mempertebal kesan diskriminasi hukum karena selain massa aksi tertib prokes, ada banyak kerumunan belakangan ini yg tak dipanggil untuk diminta klarifikasi seperti di Maumere, Deli, Serdang dan Jakarta,” pungkasnya. [Medi]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed