oleh

Pacu EBT, Wujudkan Kemandirian Energi

Hj Riri Damayanti John Latief

CacamNian.com, Bengkulu – Semua pihak di Indonesia harus mulai menyingsingkan lengan baju guna mengantisipasi habisnya cadangan minyak dan gas bumi yang diprediksi akan terjadinya belasan tahun kedepan dengan meningkatkan produksi minyak mentah dan atau mengupayakan akuisisi lapangan minyak di luar negeri.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief menuturkan, selain masih tetap harus mewaspadai wabah covid-19, perkara habisnya cadangan minyak gas ini tidak kalah mengkhawatirkan.

“Pandemi covid-19 dan krisis sektor minyak dan gas ini sama-sama bisa menimbulkan goncangan ekonomi yang dahsyat. Jangan sampai generasi sekarang akan dijadikan bahan cibiran oleh generasi lanjut yang hanya mengenal Indonesia pernah jadi produsen migas tapi gagal mengelola hingga membuat susah anak cucu,” kata Hj Riri Damayanti John Latief, Senin (29/3/2021).

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini mengimbau kepada semua pihak untuk mengkonsentrasikan energi untuk mencari solusi disamping melayangkan kritik agar ancaman krisis sektor migas tersebut dapat terselesaikan dengan cepat dan baik tanpa kegaduhan-kegaduhan yang bersifat politis.

“Pemerintah tidak diam. Inovasi-inovasi saya dengar telah dikerjakan dan berbagai teknologi yang dapat memacu peningkatkan produksi telah diupayakan. Jadi tidak perlu panik. Insya Allah krisis ini bisa dilewati selama semangat dan kekompakkan dalam mewujudkan kemandirian energi benar-benar dilaksanakan,” imbuh Hj Riri Damayanti John Latief.

Perempuan berparas manis dengan gelar Putri Dayang Negeri oleh Masyarakat Adat Tapus ini melanjutkan, salah satu solusi yang perlu dipercepat adalah pengembangan energi baru terbarukan (EBT) terutama pembangunan infrastruktur pendukung di berbagai daerah potensial seperti Bengkulu.

“Perlu dukungan semua pihak untuk menyusun strategi agar solusi tersebut berhasil. Tahun 2021 ini jadikan sebagai momentum geliat pengembangan EBT bersama infrastruktur pendukungnya. Di Bengkulu sudah ada di beberapa titik, tinggal dipacu agar bisa segera berproduksi dan memberikan manfaat,” ujar Hj Riri Damayanti John Latief.

Ketua Umum Pemuda Jang Pat Petulai (PJPP) ini berharap pihak-pihak terkait baik di tataran pemerintah pusat, daerah hingga desa dapat bersama-sama membangun peta energi nasional baik fosil maupun EBT secara sistematis agar kemandirian energi tersebut terwujud, tidak hanya menjadi wacana semata.

“Energi yang Allah subhanahu wa ta’ala anugerakan untuk Indonesia harus lebih banyak membawa manfaat besar untuk negara sesuai amanah pasal 33 UUD 1945. Jangan sampai misalnya di desa-desa yang kaya energi justru pelayanan kesehatannya, pendidikannya, jalan-jalannya, justru yang paling jelek di kawasannya,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyatakan bahwa cadangan terbukti dan potensial minyak bumi yang dimiliki Indonesia pada 2020 tercatat hanya tinggal 4,2 miliar barel dan cadangan gas bumi tercatat sebanyak 62,4 triliun kaki kubik yang bila dimanfaatkan tidak akan mencapai dua dekade lagi.

Sembari memaparkan berbagai solusi, Menteri Arifin memastikan bahwa kebutuhan bahan bakar minyak sampai dengan 2030 diproyeksikan mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari dan akan meningkat dalam 10 tahun hingga 2 juta barel barel per hari sehingga terancam tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. [M2]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed